Menuju Lingkungan Hidup Sehat, Nyaman dan Asri
Pendahuluan
Pesatnya pembangunan menyebabkan berkurangnya lahan terbuka hijau yang berfungsi untuk meresapkan air hujan, ini menjadi salah satu penyebab timbulnya masalah banjir dan kekeringan. Banyak kawasan yang dahulunya bebas banjir, saat ini sudah menjadi “langganan” banjir karena sebagian besar kawasan tersebut dan lingkungan sekitarnya telah berubah menjadi “hutan beton”. Terjadinya banjir/ genangan air di suatu kawasan setiap kali turun hujan, berdampak sangat buruk pada tingkat kesehatan dan kualitas kehidupan masyarakat dikawasan tersebut.Mengingat pembangunan atas nama kemajuan akan selalu mengakibatkan terjadinya pengalihan fungsi lahan, dampak negatif berupa masalah “Banjir” dimusim hujan dan “kekurangan air” dimusim kemarau merupakan tantangan utama yang harus diatasi oleh pemerintah dan masyarakat untuk bisa mengimplementasikan “Konsep Kota Hijau” menciptakan lingkungan hidup yang sehat, nyaman dan asri.
Fakta :
- Dengan curah hujan 100 mm perhari, tiap 1 Ha lahan menampung 1.000 M3 Air hujan. Padahal di
musim hujan, curah hujan sering melebihi 150 mm perhari. - Karena minimnya area peresapan, hampir seluruh air hujan tersebut berubah menjadi aliran air permukaan (Surface run off) yang umumnya dialirkan melalui saluran drainase lingkungan ke drainase kota untuk dibuang ke laut.
- Sebagian besar kebutuhan air baku untuk berbagai keperluan rumah-tangga dan bisnis masih harus dipenuhi dengan menyedot air tanah.
Akibat :
- Terjadi longsor dan kerusakan infrastruktur dari akibat arus air permukaan.
- Drainase kota tidak mampu menampung, sehingga setiap turun hujan terjadi banjir di jalan dan area yang relatif lebih rendah dari sekitarnya.
- Terjadi defisit air tanah, ketersediaan air baku semakin langka.
- Lapisan tanah mengering, kesuburan tanaman menurun karena kekurangan air, terutama dimusim kemarau.
- Terjadi penurunan tanah dan intrusi air laut.
Meresapkan air hujan dengan volume besar tidak mungkin menggunakan sumur resapan konvensional, karena mahal dan rumit pembuatannya, tidak efektif untuk jangka panjang. Pembuatan lubang Biopori juga kurang efektif karena kemampuan menampung dan meresapkan air hujan hampir tidak berarti, dan hanya boleh dibuat dilokasi yang tertentu, agar tidak menyebabkan manusia/ hewan terperosok.
Pembuatan ”Water Catchment Area” di kawasan yang relatif padat, membutuhkan dana besar untuk pembebasan lahan dan perawatan rutin agar terhindar dari berkembang-biaknya nyamuk dan berbagai sumber penyakit.
Solusinya:
Sistim Drainase Vertikal KONATA, suatu inovasi hasil karya anak bangsa.Meresapkan sebanyak mungkin air hujan kedalam tanah sedekat mungkin dari lokasi turunnya, sehingga tidak menjadi aliran air permukaan, mampu mengatasi dampak negatif dari pengalihan fungsi lahan.
Konata meresapkan air hujan sedekat mungkin dari lokasi turunnya pada berbagai kondisi lahan secara ekonomis, efektif, dan aman.
Manfaat Penggunaan Drainase Vertikal Konata antara lain :
- Lebih murah, lebih efektif dan lebih bermanfaat dibanding dengan sistim drainase Horizontal yang sering kali terganggu dengan sedimen dan perawatan rutin.
- Efektif mencegah terjadinya banjir/genangan air diwaktu hujan, karena tiap unit Konata menampung 3 M3 air (untuk kedalaman 4 meter) dan mampu meresapkan 35 – 36 M3 air hujan per hari (tergantung permeabilitas tanah).
- Mengisi kembali Air Tanah secara cepat, sehingga mencegah kekeringan dimusim kemarau dan mencegah penurunan tanah, serta intrusi air laut.
- Dapat ditempatkan diberbagai lokasi dengan fungsi penggunaan lahan berbeda seperti pelataran parkir, trotoar, halaman, taman atau lahan terbuka lainnya tanpa mengganggu fungsi lahan tersebut.
- Dengan fleksibilitas penempatan di berbagai kondisi lahan, tidak diperlukan lagi pembuatan drainase konvensional yang besar dan mahal, situ ataupun kolam penampungan air sementara, karena Konata menampung dan meresapkan air hujan yang turun disekitarnya.
- Terbukti memperpanjang umur infrastruktur, dari akibat tergerus air hujan.
- Sistim Konata mengatasi genangan didaerah cekungan, dimana sistim Drainase Horizontal/ Konvensional tidak bisa berfungsi.
Biaya Pembuatan Sistim Drainase Vertikal Konata
Rp. 6000.000,- (Enam Juta Rupiah), Untuk kedalaman 4 meter. Tambahan biaya Rp. 700rb/m untuk meter ke-5 dan seterusnya.![]() |
| Keistimewaan KONATA. |
![]() |
| Perbandingan KONATA Dengan Resapan Konvensional. |
Penutup
Dengan biaya pembuatan yang tidak berarti dibanding manfaat yang dihasilkan, Sistim Drainase Vertikal Konata menjadi Solusi Terbaik untuk mengatasi banjir dan kekeringan dalam satu langkah pasti.Sistim Konata mampu memberikan penghematan besar-besaran bagi pengembang dan mengamankan sistim pembuangan air pemukiman.
Konata mampu menyuburkan pohonan karena menyediakan air tanah yang cukup. Pohon yang subur dan rindang akan menyerap CO2 dari udara dan menghasilkan oksigen yang berlimpah menciptakan lingkungan hidup yang lebih asri, hijau, nyaman dan sehat.
Spesifikasi Sistim Drainase vertikal Konata
- Tandon air (sumur) dengan diameter 100 cm, kedalaman standar 4 m, dapat disesuaikan dengan kedalaman aquifer disetiap lokasi agar berfungsi maksimal.
- Rangka silinder kuat dengan dinding berlubang mengoptimalkan kemampuan meresapkan air dan mencegah kemungkinan longsornya sebagian dinding sumur. Terbuat dari Plastik Khusus yang aman dan tahan ratusan tahun.
- Penutup dari beton Precast berlobang dan berparit, sangat kuat. Tebal Beton 8cm; Besi SNI 10mm; Ukuran sisi-sisi 120 cm; Terdapat 25 buah lobang dibagian tengah, dengan Diameter 5cm, memudahkan air hujan masuk kedalam tandon dengan aman. Parit berfungsi untuk menghindari penyumbatan oleh sampah yang terbawa arus air.
PT Konata Alam Lestari
ARTIKEL BEBAS
- Tips Lingkungan Sehat
- Perda: Bangunan Tangsel Wajib Miliki Sumur Resapan
- Sistem Drainase Sumur Resapan
- Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan sistem Biofilter Anaerob-Aerob
- Teknologi Pengolahan Limbah Tahu-Tempe Dengan Proses Anaerob dan Aerob
- Teknologi Pengolahan Limbah Tekstil Dengan Sistem Lumpur Aktif
- Teknologi Konservasi Air Tanah Dengan Sumur Resapan
- Alat Pengolah Air Limbah Rumah Tangga Semi Komunal
- Cara Pengolahan Air Sumur Untuk Kebutuhan Air Minum
- Pengolahan Air Asin Atau Payau Dengan Sistem Osmosis balik
- Teknologi Pengolahan Air Bersih Dengan Proses Saringan Pasir Lambat
- Pengolahan Air Sungai / Gambut Sederhana
- Pembuatan Filter Untuk Menghilangkan Zat Besi dan Mangan di dalam Air
- Tekhnologi Pengolahan Air
- SUMUR RESAPAN AIR (SRA)
- Masalah Air Bersih
- Membuat Sumur Resapan di Pekarangan
- Mengatasi Kebocoran Dan Rembesan Air Pada Dinding Kamar Mandi
- Mengatasi Rembesan Air Pada Dinding Rumah
- Saringan Pasir Lambat (SPL)
- Saringan Pasir Cepat (SPC)
- Kumpulan Teknik Penyaringan Air Sederhana
- Perusahaan Tidak Mempunyai Sumur Resapan Dikenai Sanksi
- Perda Sumur Resapan Tidak Berjalan Dengan Baik
- Atasi Banjir, 50 Sumur Resapan Dibuat di Ciliwung
- Sumur Resapan, Solusi untuk Melindungi dan Memperbaiki Air Tanah
- Sumur Resapan Hindari Banjir
- BNPB Kucurkan Rp1 Miliar Untuk Penanganan Banjir Banten
- Pedoman Penanggulangan Banjir
- Penanganan Banjir di Indonesia
- Terbatasnya Drainase dan Resapan Air Jadi Penyebab Banjir
- sumur resapan mengatasi banjir
- Jenis-jenis Banjir Serta Berbagai Faktor Penyebab Banjir
- Mengapa Air Laut Rasanya Asin?
- Penyebab Global Warming, Pemanasan Global
- SEJARAH PROSES PEMBENTUKAN BUMI
- Infrastruktur Jalan di Tangsel Dikeluhkan Warga
- jenis Drainase dan permasalahanya
- DRAINASE
- PENANGGULANGAN BANJIR DI PERUMAHAN SAWOJAJAR








apakah tidak sebaiknya dipakai untuk air dari atap saja ( air relatif lebih berih) agar air tanah tidak terkontaminasi .
ReplyDeleteterima kasih atas masukan anda...
Deletememang benar yang anda katakan bahwa jika air limpasan atap rumah jauh lebih bersih & jauh lebih menjaga kwalitas air tanah untuk tidak terkontaminasi.
namun, sepanjang pengalaman dan setelah melakukan beberapa uji coba termasuk di lokasi-lokasi perumahan yang dekat dengan kami, air tanah tidak terkontaminasi selama zat-zat dan limbah yang masuk masih dalam kategori wajar. yakni seperti limbah air sabun dan sejenisnya dari limbah-limbah rumah tangga. mungkin karena sistem mekanisme penguraian dalam tanah yang mungkin sudah menjadi rahasia alam.
di samping itu, sebaliknya justru kwalitas air tanah di sekitarnya semakin membaik.
dan kamipun pernah melakukan riset tentang sistem drainase belanda yang menggunakan batu-batu dan ijuk sebagai media penyaring air sebelum meresap ke dalam tanah. dan hasilnya saat beberapa waktu tenyata air malah jadi tidak meresap dan malah tergenang di dalam lubang. hal itu di sebabkan dinding drainase yang kedap air di tambah lagi ijuk yang menjadi kedap air juga karna tertutup oleh lumut.
terima kasih sekali lagi atas komentar dan masukan anda yang berharga. dan masukan anda akan jadi pertimbangan yang berharga untuk kami.
salam (admin)
Terus terang saya tertarik dengan Konata ini,namunyang menjadi pertanyaan saya adalah apakah dengan konata ini dapat menyerap air banjir yang sudah terserap oleh tanah agar air yang terserap oleh tanah tersebut tidak merembes ke dalam rumah melalui lantai.
ReplyDeleteMaaf, Saya rasa tidak akan terjadi seperti itu pak..
Deletesebab, sifat air adalah selalu turun ketempat yang lebih rendah..
sedangkan konata ini saja dalamnya sudah 4meter dari permukaan tanah...